Bahasa Jepang memiliki struktur kalimat, penggunaan kosakata, dan tingkat kesopanan yang berbeda dari bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut membuat proses penerjemahan membutuhkan pemahaman lebih dari sekadar arti kata.
Kesalahan dalam menerjemahkan bahasa Jepang bisa mengubah maksud kalimat, membuat informasi sulit dipahami, atau menimbulkan kesan yang kurang tepat. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika menerjemahkan dokumen bisnis, materi komunikasi, dan dokumen resmi.
Salah satu penyebabnya adalah menerjemahkan kalimat secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteks. Kesalahan juga bisa muncul karena penggunaan partikel, pemilihan kosakata, hingga tingkat kesopanan yang kurang sesuai.
Berikut tujuh kesalahan umum dalam penerjemahan bahasa Jepang beserta cara menghindarinya.
1. Menerjemahkan Bahasa Jepang Secara Harfiah
Kesalahan yang sering terjadi adalah menerjemahkan setiap kata sesuai arti kamus tanpa memahami maksud keseluruhan kalimat.
Bahasa Jepang memiliki banyak ungkapan yang maknanya bergantung pada konteks. Jika diterjemahkan secara langsung, hasilnya bisa terdengar kaku atau bahkan berbeda dari maksud aslinya.
Contohnya adalah ungkapan:
お疲れ様です (Otsukaresama desu)
Dalam komunikasi kerja, ungkapan ini sering digunakan untuk menyapa rekan kerja, membuka percakapan, atau menunjukkan penghargaan atas pekerjaan seseorang.
Jika diterjemahkan secara harfiah, ungkapan tersebut berkaitan dengan rasa lelah. Namun, dalam konteks komunikasi sehari-hari, maknanya tidak selalu berhubungan dengan kondisi fisik seseorang.
Terjemahan yang tepat perlu menyesuaikan situasi. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut bisa diterjemahkan menjadi “Halo”, “Terima kasih atas kerja kerasnya”, atau bentuk sapaan lain sesuai konteks.
Kesalahan serupa dapat ditemukan pada ungkapan yang digunakan dalam email, percakapan bisnis, dan komunikasi formal.
Cara menghindarinya:
- Pahami maksud kalimat sebelum menerjemahkan setiap kata.
- Perhatikan situasi komunikasi dan hubungan antarpenutur.
- Gunakan ungkapan bahasa Indonesia yang alami dan sesuai konteks.
- Hindari mempertahankan struktur bahasa Jepang jika membuat kalimat terasa janggal.
Terjemahan yang baik menyampaikan maksud penulis dengan jelas tanpa harus mengikuti susunan kata bahasa sumber secara kaku.
2. Salah Memahami Penggunaan Partikel Bahasa Jepang
Partikel merupakan bagian penting dalam tata bahasa Jepang. Partikel membantu menunjukkan hubungan antara subjek, objek, tempat, waktu, dan aktivitas dalam sebuah kalimat.
Beberapa partikel yang sering digunakan adalah は (wa), が (ga), を (o), に (ni), dan で (de).
Meskipun terlihat sederhana, penggunaan partikel yang berbeda dapat memengaruhi makna kalimat.
Contohnya:
私は日本語を勉強します。
Watashi wa nihongo o benkyou shimasu.
Artinya:
“Saya belajar bahasa Jepang.”
Dalam kalimat tersebut, は menunjukkan topik pembicaraan, sedangkan を menunjukkan objek yang dipelajari.
Contoh lainnya:
会社で働きます。
Kaisha de hatarakimasu.
Artinya:
“Bekerja di perusahaan.”
Partikel で menunjukkan tempat berlangsungnya aktivitas.
Jika partikel diterjemahkan atau dipahami secara keliru, hubungan antarbagian kalimat bisa berubah. Kesalahan ini dapat membuat penerjemah salah menentukan siapa yang melakukan tindakan, apa objeknya, atau di mana aktivitas berlangsung.
Cara menghindarinya:
- Pelajari fungsi partikel berdasarkan konteks kalimat.
- Identifikasi subjek, objek, dan aktivitas sebelum menerjemahkan.
- Perhatikan hubungan antarfrasa dalam kalimat panjang.
- Jangan menerjemahkan partikel secara terpisah tanpa memahami fungsi gramatikalnya.
Memahami struktur kalimat membantu penerjemah menghasilkan terjemahan yang lebih akurat dan mudah dibaca.
3. Salah Memilih Kosakata yang Memiliki Makna Mirip
Bahasa Jepang memiliki kosakata yang terlihat serupa, tetapi penggunaannya berbeda berdasarkan konteks.
Contohnya adalah kata yang berkaitan dengan aktivitas melihat:
- 見る (miru): melihat secara umum.
- 観る (miru): melihat atau menonton, misalnya pertunjukan.
- 診る (miru): memeriksa kondisi pasien dalam konteks medis.
Ketiganya memiliki cara baca yang sama, tetapi penggunaan kanji dan konteksnya membantu menentukan makna.
Jika penerjemah hanya mengandalkan cara baca, makna yang dipilih bisa tidak sesuai dengan situasi.
Kesalahan pemilihan kosakata juga dapat terjadi pada dokumen bisnis. Istilah yang digunakan dalam kontrak, laporan, proposal, atau materi pemasaran mungkin memiliki makna khusus yang tidak dapat diterjemahkan menggunakan padanan umum.
Misalnya, istilah yang berkaitan dengan transaksi, kewajiban, dan persyaratan perusahaan perlu dipahami sesuai konteks dokumennya.
Cara menghindarinya:
- Periksa konteks kalimat dan bidang pembahasan.
- Gunakan kamus Jepang yang menyediakan contoh penggunaan.
- Perhatikan kanji, bukan hanya cara baca.
- Pastikan istilah yang dipilih konsisten dalam seluruh dokumen.
Untuk dokumen bisnis atau teknis, penggunaan jasa penerjemah profesional bahasa Jepang dapat membantu menjaga ketepatan terminologi. Penerjemahan dokumen semacam ini perlu mempertimbangkan bidang, tujuan, dan konteks penggunaannya.
4. Mengabaikan Tingkat Kesopanan atau Keigo
Bahasa Jepang memiliki sistem tingkat kesopanan yang dikenal sebagai keigo. Penggunaannya berkaitan dengan hubungan antarpenutur, situasi komunikasi, dan tujuan pembicaraan.
Secara umum, keigo mencakup bentuk bahasa yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan, merendahkan tindakan sendiri secara sopan, atau menjaga kesantunan dalam komunikasi.
Contohnya adalah kata yang berkaitan dengan aktivitas pergi:
- 行く (iku): pergi.
- いらっしゃる (irassharu): bentuk hormat untuk pergi, datang, atau berada.
- 伺う (ukagau): bentuk merendahkan tindakan sendiri yang dapat digunakan untuk pergi atau berkunjung dalam konteks tertentu.
Ketiganya tidak dapat digunakan secara sembarangan karena memiliki fungsi dan tingkat kesopanan yang berbeda.
Dalam email bisnis Jepang, penggunaan keigo yang kurang tepat dapat membuat pesan terdengar terlalu santai atau kurang sopan. Sebaliknya, penggunaan bentuk yang terlalu formal juga dapat membuat komunikasi terasa tidak alami.
Cara menghindarinya:
- Kenali siapa pengirim dan penerima pesan.
- Perhatikan hubungan profesional antara kedua pihak.
- Sesuaikan tingkat kesopanan dengan situasi.
- Periksa kembali penggunaan keigo dalam email dan dokumen bisnis.
Penerjemah perlu mempertahankan maksud dan tingkat kesopanan bahasa sumber, lalu menyesuaikannya dengan kebiasaan komunikasi bahasa Indonesia.
5. Salah Menerjemahkan Bentuk Negasi dan Waktu
Perubahan bentuk kata kerja dalam bahasa Jepang dapat menunjukkan perbedaan waktu dan negasi.
Kesalahan dalam memahami perubahan tersebut dapat menyebabkan informasi diterjemahkan secara terbalik.
Contohnya:
| Bahasa Jepang | Arti |
|---|---|
| 食べます | Makan |
| 食べません | Tidak makan |
| 食べました | Sudah makan |
| 食べませんでした | Tidak makan atau belum makan pada waktu yang dimaksud |
Perhatikan perbedaan antara 食べます dan 食べません. Keduanya memiliki makna yang berlawanan karena bentuk kedua menunjukkan negasi.
Dalam dokumen bisnis, kesalahan seperti ini bisa memengaruhi informasi mengenai jadwal, persetujuan, kewajiban, atau status pekerjaan.
Misalnya, kalimat yang menyatakan bahwa suatu kegiatan tidak dilaksanakan dapat berubah menjadi pernyataan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan jika bentuk negasinya terlewat.
Cara menghindarinya:
- Periksa perubahan bentuk kata kerja.
- Identifikasi penanda waktu dan negasi.
- Baca kembali kalimat setelah diterjemahkan.
- Pastikan informasi mengenai tindakan, waktu, dan status tetap sesuai dengan sumber.
Pemeriksaan ini penting terutama untuk dokumen yang memuat instruksi, jadwal, dan ketentuan kerja.
6. Menghilangkan atau Menambahkan Informasi dalam Terjemahan
Kesalahan penerjemahan juga dapat terjadi ketika penerjemah menghilangkan informasi yang dianggap tidak penting atau menambahkan penjelasan yang tidak terdapat dalam teks sumber.
Dalam beberapa kasus, penyesuaian kalimat memang diperlukan agar hasil terjemahan lebih alami. Namun, penyesuaian tersebut tidak boleh mengubah informasi utama.
Contohnya:
会議は午後3時に開始します。
Kaigi wa gogo sanji ni kaishi shimasu.
Artinya:
“Rapat dimulai pukul 15.00.”
Jika diterjemahkan menjadi “Rapat dimulai sekitar pukul 15.00”, kata “sekitar” memberikan kesan bahwa waktu tersebut tidak pasti. Padahal, kalimat sumber menyatakan waktu mulai secara langsung.
Penambahan atau penghilangan informasi seperti ini dapat memengaruhi pemahaman pembaca.
Dalam dokumen resmi, informasi mengenai nama, tanggal, jumlah, alamat, dan ketentuan perlu diperiksa dengan cermat.
Cara menghindarinya:
- Pastikan semua informasi penting dari teks sumber tetap ada.
- Jangan menambahkan asumsi yang tidak didukung oleh kalimat asli.
- Periksa angka, tanggal, nama, dan istilah khusus.
- Gunakan penyesuaian bahasa hanya untuk meningkatkan keterbacaan.
Tujuan penerjemahan adalah menyampaikan informasi secara akurat, bukan mengubah isi agar sesuai dengan interpretasi pribadi penerjemah.
7. Mengabaikan Kanji dan Istilah Khusus
Kanji memiliki peran penting dalam bahasa Jepang. Satu cara baca dapat memiliki beberapa makna, sementara satu kanji juga dapat memiliki lebih dari satu cara baca.
Kesalahan membaca kanji dapat menyebabkan penerjemah memilih kata yang tidak sesuai dengan konteks.
Selain itu, bahasa Jepang memiliki istilah khusus dalam bidang bisnis, teknologi, hukum, pendidikan, dan industri.
Istilah tersebut perlu diterjemahkan berdasarkan bidang penggunaannya.
Misalnya, istilah teknis dalam dokumen perusahaan tidak selalu memiliki padanan yang tepat jika diterjemahkan menggunakan arti umum dari kamus.
Penerjemah juga perlu memperhatikan nama perusahaan, nama produk, jabatan, dan istilah yang digunakan secara konsisten.
Cara menghindarinya:
- Periksa kanji berdasarkan konteks kalimat.
- Gunakan sumber referensi yang sesuai dengan bidang dokumen.
- Buat daftar istilah untuk dokumen yang panjang.
- Pertahankan konsistensi istilah dari awal hingga akhir.
- Konfirmasi penulisan nama dan istilah khusus jika sumbernya belum jelas.
Pemeriksaan istilah membantu mengurangi kesalahan yang dapat memengaruhi pemahaman pembaca.
Cara Menghindari Kesalahan dalam Penerjemahan Bahasa Jepang
Memahami tujuh kesalahan di atas dapat membantu penerjemah meningkatkan kualitas hasil terjemahan. Namun, proses penerjemahan tetap membutuhkan pemeriksaan yang sistematis.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
1. Pahami Konteks Dokumen
Sebelum mulai menerjemahkan, tentukan tujuan dokumen dan siapa pembacanya.
Dokumen bisnis, akademik, teknis, dan komunikasi sehari-hari memiliki kebutuhan bahasa yang berbeda.
Pemahaman konteks membantu penerjemah memilih kosakata, struktur kalimat, dan tingkat kesopanan yang sesuai.
2. Periksa Struktur Kalimat
Bahasa Jepang memiliki struktur kalimat yang berbeda dari bahasa Indonesia. Kata kerja umumnya berada di bagian akhir kalimat, sedangkan partikel membantu menunjukkan hubungan antarunsur.
Penerjemah perlu memahami struktur tersebut sebelum menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia.
Jangan langsung memindahkan susunan kata bahasa Jepang ke bahasa Indonesia jika hasilnya membuat kalimat sulit dipahami.
3. Gunakan Referensi yang Tepat
Kamus dapat membantu menemukan arti kata, tetapi konteks tetap menjadi faktor utama dalam menentukan terjemahan.
Gunakan kamus, glosarium, dan referensi yang sesuai dengan bidang dokumen.
Untuk dokumen panjang, buat daftar istilah agar pilihan kata tetap konsisten.
4. Lakukan Pemeriksaan Ulang
Setelah selesai menerjemahkan, baca kembali hasilnya.
Periksa apakah terdapat kesalahan pada:
- Makna kalimat.
- Penggunaan partikel.
- Tingkat kesopanan.
- Bentuk negasi dan waktu.
- Nama, angka, dan tanggal.
- Istilah khusus.
- Kelengkapan informasi.
Pemeriksaan ulang membantu menemukan kesalahan yang mungkin terlewat saat proses penerjemahan.
5. Sesuaikan Bahasa dengan Pembaca
Terjemahan yang akurat perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca sasaran.
Jika dokumen ditujukan untuk kebutuhan bisnis, gunakan istilah profesional dan struktur yang jelas.
Jika dokumen ditujukan untuk pembaca umum, hindari penggunaan istilah yang terlalu teknis tanpa penjelasan yang diperlukan.
Kapan Membutuhkan Penerjemah Bahasa Jepang Profesional?
Penerjemahan mandiri dapat digunakan untuk memahami informasi sederhana, membaca percakapan, atau mempelajari bahasa Jepang.
Namun, dokumen yang memiliki tujuan resmi, bisnis, atau teknis membutuhkan perhatian lebih terhadap ketepatan bahasa dan terminologi.
Beberapa jenis dokumen yang dapat membutuhkan penerjemah profesional antara lain:
- Kontrak dan perjanjian bisnis.
- Dokumen perusahaan.
- Proposal dan laporan.
- Materi pemasaran.
- Dokumen akademik.
- Dokumen teknis.
- Dokumen resmi untuk kebutuhan administrasi.
Untuk dokumen yang memerlukan hasil terjemahan resmi, penting untuk memastikan apakah pihak penerima mensyaratkan penerjemah tersumpah.
Go Penerjemah menyediakan jasa penerjemah tersumpah untuk kebutuhan penerjemahan dokumen resmi dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Jepang.
Sementara itu, dokumen bisnis, akademik, teknis, dan konten digital dapat disesuaikan dengan kebutuhan layanan penerjemah profesional.
Pemilihan layanan sebaiknya mempertimbangkan jenis dokumen, tujuan penggunaan, pasangan bahasa, dan persyaratan pihak penerima.





